Suara piring beradu dan tawa riang anak-anak menjadi melodi sore di rumah Norma. Seperti biasanya, Norma menyembunyikan badai di dalam hatinya, demi menjaga kedamaian semu itu. Di depannya, Raka, suaminya, terlihat bahagia bermain dengan dua putra mereka. Si sulung, Dika, berusia 10 tahun, dan adiknya, Rian, 7 tahun. Mereka tak tahu, rumah yang mereka anggap istana itu perlahan retak.
Beberapa bulan lalu, Norma tak sengaja melihat pesan di ponsel Raka. Pesan dari Menik, kolega suaminya di kantor. Awalnya biasa, lalu semakin intens. Norma mencoba menutup mata, menelan pil pahit. Ia mencoba percaya bahwa Raka akan sadar dan kembali ke pelukannya. Namun, harapan itu hancur saat ia melihat sendiri Raka dan Menik di sebuah restoran. Saling menyuapi, tertawa lepas. Hati Norma remuk, tetapi air matanya ia tahan, hanya tumpah saat ia sendirian di kamar.
"Demi anak-anak, demi Dika dan Rian," bisik Norma pada dirinya sendiri setiap kali ia merasa ingin meledak. Ia tak ingin anak-anaknya merasakan pedihnya keluarga yang hancur. Ia ingin Dika dan Rian tumbuh dengan figur ayah yang utuh, yang ia tahu hanya bisa ia jaga dengan bungkam. Ia biarkan Raka pulang larut, tak bertanya ke mana ia pergi. Ia biarkan suaminya mengabaikan hari jadi mereka, tak menuntut penjelasan. Ia rela membiarkan Menik menggerogoti suaminya, asalkan Dika dan Rian tidak kehilangan senyum mereka.
Tapi Menik semakin berani. Ia tak lagi sembunyi. Ia bahkan mengirimkan foto-foto Raka di tempat yang berbeda-beda, seolah ingin Norma tahu bahwa Raka adalah miliknya. Hati Norma teriris, ia mencoba tak membalas. Ia hanya ingin mempertahankan kedamaian keluarga kecilnya. Namun, Menik terus mengganggu, hingga akhirnya ia menelepon Norma langsung.
"Mbak, kenapa Mbak diam aja? Mas Raka udah milih aku," kata Menik dengan nada mengejek.
"Tolong, jangan ganggu saya dan keluarga saya," jawab Norma, suaranya bergetar.
"Apa yang bisa saya kasih ke anak-anak saya kalau saya cerein Mas Raka?" tanya Norma.
"Mendingan Mas Raka sama saya aja, Mbak. Mas Raka bilang dia udah bosan sama Mbak," Menik semakin menjadi.
Norma tak menjawab. Tangannya mengepal, menahan amarah yang membuncah. Ia menutup telepon. Ia merasa hina, harga dirinya diinjak-injak.
Malam itu, Raka pulang dalam keadaan kacau. Ia terduduk lemas di sofa, memijat kepalanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Norma, pura-pura tidak tahu.
"Aku nggak tahu, Ma. Aku pusing," keluh Raka. "Sepertinya Menik udah di luar batas. Aku mau putus, tapi dia nggak mau. Dia terus-menerus mengancamku. Bahkan dia bilang, dia udah pelet aku," Raka menatap Norma.
"Pelet?" tanya Norma, nada suaranya datar.
"Iya, Ma. Aku nggak bisa jauh-jauh dari dia. Aku nggak tahu kenapa," Raka terlihat sangat menderita.
Hati Norma mencelos. Ia ingin tertawa, mengejek kebodohan suaminya, tetapi yang keluar hanyalah air mata. Ia tahu, Raka bukan dipelet. Raka hanya tak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya. Raka ingin Norma yang menyelesaikannya. Norma sadar, ia tidak bisa lagi diam. Kedamaian yang ia pertahankan ternyata hanya kebohongan.
Di hadapan Raka, Norma berdiri tegak. Ia tak lagi terlihat lemah.
"Bukan Menik yang pelet Mas. Mas yang membiarkan dia masuk dalam hidup kita. Mas yang melepaskan kedamaian yang udah susah payah saya jaga. Mas yang merusak rumah ini," kata Norma, suaranya pelan tetapi menusuk. "Mas yang memilih untuk mengkhianati saya, anak-anak, dan janji suci kita."
Raka terdiam.
Norma menatap Raka dengan air mata yang mengalir. Ia membiarkan air mata itu tumpah, tanpa ditahan lagi. Air mata yang selama ini ia sembunyikan.
Buah duku buah rambutan
Dimakan bersama di bawah pohon
Hati teriris tak tertahankan
Bukan pelet, Mas, tapi perbuatanmu, kebohonganmu
Jalan-jalan ke kota Medan
Singgah sebentar membeli duren
Telah kau campakkan janji yang kau ucapkan
Cukup sudah, aku tak tahan lagi, lebih baik kita akhiri
Norma mengakhiri ucapannya dengan pantun. Raka hanya terdiam, tak bisa berkata-kata. Ia tahu, kedamaian di rumahnya sudah tak bisa diselamatkan. Norma pergi ke kamar, mengambil koper, lalu memasukkan semua baju anak-anak.
"Saya akan pergi, Mas. Jaga diri baik-baik," kata Norma sambil menarik koper anak-anaknya. Raka hanya melihat kepergian mereka. Dika dan Rian hanya bisa menangis melihat ayah dan ibu mereka yang tak lagi bersama. Rumah itu kini kosong, sunyi. Tidak ada lagi tawa riang anak-anak, hanya ada sepi yang ditinggalkan oleh kebohongan dan penghianatan.
Norma tak lagi mempedulikan pandangan orang lain. Ia telah kehilangan kedamaian hatinya, tak ada gunanya lagi menjaga harga diri Raka. Sekarang, satu-satunya yang penting baginya adalah kebahagiaan sejati anak-anaknya, meskipun ia harus berkorban.
No comments:
Post a Comment